JAKARTA – Pendiri Microsoft, Bill Gates, memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini memiliki kemampuan yang semakin kuat. Menurutnya, teknologi tersebut berpotensi disalahgunakan untuk melakukan aksi yang dapat menyebabkan kematian hingga 1 miliar manusia.
Peringatan itu disampaikan Gates dalam wawancara eksklusif dengan kantor berita internasional NBC News. Pernyataan tersebut kemudian dikutip Bloomberg pada Senin (28/9/2026).
“AI cukup kuat untuk mendorong sebuah peristiwa yang dapat menyebabkan satu miliar kematian (manusia),” kata Gates.
Gates menekankan bahwa ancaman tersebut dapat muncul apabila teknologi AI yang semakin canggih berkembang secara tidak terkendali, bertindak otonom, dan digunakan oleh pihak yang memiliki niat buruk.
“Jika orang yang punya niat buruk disatukan dan mereka menggunakan AI, maka ini bisa menjadi senjata besar,” imbuhnya.
Karena berpotensi membahayakan umat manusia, Gates menilai pengembangan AI harus diawasi secara ketat, baik oleh pemerintah maupun perusahaan teknologi.
“Saya rasa regulasi yang dibuat mandiri oleh masing-masing perusahaan AI (self-regulation) tidak cukup,” tutur Gates.
“Kita membutuhkan penegak hukum dan politisi untuk terlibat dalam pembahasan mengenai seperti apa perlindungan dan pemantauan yang harus dilakukan, dan ini sifatnya wajib,” tambahnya.
Gates mengakui bahwa kewajiban tersebut dapat menambah beban bagi industri AI. Namun, menurutnya, regulasi tidak seharusnya memperlambat perkembangan teknologi secara drastis.
AI Tak Cukup Hanya Punya Kill Switch
Dalam wawancara yang sama, Gates turut menyinggung gagasan kill switch, yakni mekanisme yang memungkinkan sistem AI dimatikan apabila dianggap terlalu berbahaya.
Menurut Gates, keberadaan kill switch saja tidak cukup untuk menangani risiko AI. Pasalnya, teknologi tersebut berpotensi mengambil alih komputer secara mandiri dan mencegah manusia mematikannya.
Perdebatan mengenai kill switch belakangan semakin mendapat perhatian. Sejumlah pembuat kebijakan di Amerika Serikat (AS) dikabarkan mulai membahas kemungkinan mewajibkan perusahaan AI menyediakan kemampuan penghentian sistem secara menyeluruh untuk model AI tingkat lanjut (frontier AI).
Gates menilai pembahasan mengenai mekanisme tersebut juga menunjukkan masih adanya kesenjangan pemahaman mengenai kemampuan teknis AI modern.
Peringatan soal Risiko AI Makin Ramai
Peringatan Gates menjadi bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai risiko AI tingkat lanjut. CEO Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya menyerukan perlambatan pengembangan AI. Seruan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah tokoh teknologi, termasuk CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk.
Di sisi lain, pemerintah AS masih menghadapi perdebatan mengenai seberapa ketat teknologi tersebut perlu diatur. Pada September 2026, Presiden AS Donald Trump menolak dorongan untuk membuat kesepakatan internasional yang mengatur risiko AI dan menyatakan bahwa institusi yang ada dapat menangani risiko tersebut.
Karena itu, pernyataan Gates tidak hanya menyoroti kemampuan AI, tetapi juga persoalan mengenai pihak yang bertanggung jawab mengawasi teknologi tersebut ketika kemampuannya semakin berkembang.
Sebelumnya, Gates juga memberikan pandangannya mengenai keamanan AI melalui esai yang dirilis pada Agustus 2026. Dalam esai tersebut, ia memperingatkan bahwa pihak yang berniat jahat dapat memanfaatkan AI untuk melakukan serangan siber, penipuan, menyebarkan disinformasi, serta menyerang rumah sakit, lembaga keuangan, jaringan listrik, dan sistem pemerintahan.[]


