Usus Buntu Ramai Dibahas di Medsos, Ini yang Terjadi pada Tubuh

JAKARTA – Selebgram Fahira Almira tengah ramai diperbincangkan setelah memilih menjalani pengobatan di Penang, Malaysia, terkait masalah pada organ pencernaannya. Sebelumnya, saat menjalani pemeriksaan di rumah sakit di Indonesia, Fahira disebut didiagnosis mengalami radang usus buntu. Namun, ia kemudian mendapat diagnosis berbeda setelah diperiksa di rumah sakit Malaysia.

Terlepas dari kasus tersebut, radang usus buntu merupakan kondisi yang cukup umum terjadi. Diagnosis radang usus buntu umumnya tidak hanya ditentukan dari keluhan pasien. Ada sejumlah gejala dan pemeriksaan yang dapat membantu dokter memastikan kondisi tersebut.

Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Prof Ari Fahrial Syam menjelaskan, radang usus buntu atau apendisitis merupakan peradangan yang terjadi pada appendix. Menurutnya, pasien dengan radang usus buntu dapat datang dalam kondisi akut. Salah satu tanda yang khas adalah nyeri tekan pada perut bagian kanan bawah.

Pada kondisi yang cukup berat, nyeri tersebut bahkan bisa terasa sangat hebat hingga pasien kesulitan berjalan dan harus memegang area perut yang terasa sakit. Rasa sakit juga dapat semakin terasa ketika pasien bergerak.

Baca juga:  Timnas Indonesia Kembali Berlaga Bulan Depan, Ini Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026

“Apendisitis adalah suatu peradangan pada usus buntu, appendix yang kita bilang. Jadi itu bisa pasien datang dalam keadaan akut. Akut itu biasanya ditandai dengan nyeri tekan di perut kanan bawah dan bahkan pada pasien yang khas itu dia merasakan nyeri yang luar biasa,” ucapnya saat dihubungi detikcom, Rabu (12/8/2026).

Selain gejala, pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk membantu mendukung diagnosis. Pada pasien dengan radang usus buntu, lanjut Prof Ari, kadar sel darah putih atau leukosit biasanya mengalami peningkatan.

“Nilai normal leukosit itu 5.000 sampai 10.000. Rata-rata lab menggunakan kriteria itu, jadi bisa saja ditemukan leukosit di atas 10.000,” ujar Prof Ari.

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan C-reactive protein (CRP) untuk membantu melihat adanya infeksi.

Untuk mendukung diagnosis, pemeriksaan penunjang seperti USG abdomen juga dapat dilakukan. Menurut Prof Ari, pemeriksaan tersebut dapat menunjukkan adanya pembengkakan pada appendix.

Baca juga:  Bersama Dinsos Aceh Besar, Kecamatan Krueng Barona Jaya Gelar Bimtek DTSEN bagi Operator SIKS-NG

Salah satu parameter yang dapat dinilai melalui USG adalah diameter appendix.

“Nah, untuk diagnosis itu tadi bisa saja dilakukan pemeriksaan USG abdomen. Jadi USG abdomen itu bisa menemukan adanya donati, kita bilang donati sains atau sosis sains yang menunjukkan adanya pembengkakan dari appendix tersebut. Jadi kalau disebutkan 8 itu sudah tidak normal, karena nilai normal kurang dari 6 ya, jadi 6, 4 sampai 6 itu masih oke,” ucapnya lagi.

Lebih lanjut, Prof Ari mengatakan, kondisi radang usus buntu dapat mengalami perubahan setelah pasien mendapatkan pengobatan. Jika pada awalnya pasien mengalami apendisitis akut, gejalanya dapat mereda setelah pengobatan, bahkan dalam waktu beberapa minggu.

Namun, meredanya gejala tidak selalu berarti kondisi pada appendix sudah sepenuhnya teratasi. Pada sebagian kasus, pasien dapat berada dalam fase apendisitis kronis yang sewaktu-waktu bisa kembali mengalami serangan akut.

“Bisa saja pasien masih ada dalam fase appendicitis kronis. Nah, itu kronis, waktu-waktu bisa saja kambuh akut,” jelas Prof Ari.[]

Berita Populer

Berita Terkait