BANDA ACEH – Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menjadi satu-satunya Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia yang terpilih mengikuti KRISAN Fellowship 2026.
UIN Ar-Raniry terpilih sebagai salah satu dari lima perguruan tinggi di Indonesia yang mengikuti program tersebut setelah melalui proses seleksi terhadap lebih dari 100 perguruan tinggi.
Dua perwakilan UIN Ar-Raniry yang mengikuti program itu adalah Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) Harri Santoso SPsi MEd dan Koordinator Pusat Studi Gender dan Anak LP2M UIN Ar-Raniry, Dr Nashriyah MA.
KRISAN Fellowship diselenggarakan Pijar Foundation dengan dukungan The Nippon Foundation dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Pemilihan peserta dilakukan berdasarkan partisipasi dalam Online Executive Workshop, kesiapan kelembagaan perguruan tinggi, serta kualitas dan kelayakan proposal rencana aksi yang diajukan.
Melalui Fellowship to Japan 2026, kedua perwakilan UIN Ar-Raniry akan mempelajari secara langsung penyelenggaraan layanan disabilitas dan praktik pendidikan tinggi inklusif di Jepang.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 22-30 Agustus 2026 di Tokyo dan Kyoto. Peserta akan mengunjungi sejumlah institusi, antara lain The Nippon Foundation Office, Tsukuba University, dan Kyoto University.
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman MAg mengatakan keikutsertaan UIN Ar-Raniry dalam program tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen kampus dalam membangun pendidikan yang setara dan inklusif.
“Pendidikan tidak boleh hanya berbicara tentang siapa yang mampu mengaksesnya. Pendidikan juga harus memastikan bahwa setiap orang yang telah berada di dalamnya dapat belajar, tumbuh, dan berkembang tanpa terhalang oleh hambatan yang sebenarnya dapat kita hilangkan,” kata Mujiburrahman.
Menurut dia, keberpihakan terhadap pendidikan inklusif bukan semata-mata persoalan penyediaan fasilitas, melainkan bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi dalam memastikan setiap warga negara memperoleh hak pendidikan secara setara.
“Ketika sebuah kampus membangun lingkungan yang inklusif, sesungguhnya kampus itu sedang membangun peradaban yang lebih manusiawi. Karena ukuran kemajuan pendidikan bukan hanya seberapa tinggi ilmu yang dihasilkan, tetapi juga seberapa luas kesempatan yang dibuka,” ujarnya.
Mujiburrahman berharap pengalaman yang diperoleh melalui KRISAN Fellowship dapat diterjemahkan ke dalam kebijakan dan praktik kelembagaan di UIN Ar-Raniry.
“Belajar ke Jepang bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan praktik baik untuk kemudian kita adaptasi sesuai dengan kebutuhan UIN Ar-Raniry,” kata dia.
Sebelum mengikuti Fellowship to Japan, peserta menjalani rangkaian pembekalan melalui Online Executive Workshop pada 7-16 Juli 2026. Dalam lokakarya tersebut, peserta mengikuti pembelajaran bersama trainer dari Indonesia dan Jepang mengenai konsep inclusive higher education dan social model of disability.
Peserta juga menyusun proposal action plan sebagai fondasi penguatan layanan disabilitas dan pendidikan tinggi inklusif di perguruan tinggi masing-masing.
Selain lolos mengikuti Fellowship to Japan 2026, UIN Ar-Raniry dinyatakan lolos pada tahap lanjutan KRISAN Fellowship, yakni Disability Equality Training (DET). Pelatihan partisipatif tersebut dijadwalkan berlangsung pada 5-6 Agustus 2026 di Jakarta.
DET dirancang untuk memperkuat pemahaman mengenai disabilitas sekaligus mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Setelah mengikuti pelatihan dan kunjungan pembelajaran ke Jepang, peserta akan menjalani tahap mentoring dan implementasi action plan pada September hingga Desember 2026.
KRISAN Fellowship merupakan program pengembangan kepemimpinan dan penguatan kapasitas institusi yang dirancang untuk mendukung penguatan Unit Layanan Disabilitas di perguruan tinggi.
Program tersebut menyasar pimpinan perguruan tinggi serta koordinator dan pengelola ULD yang memiliki peran strategis dalam merumuskan kebijakan dan membangun sistem dukungan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Keikutsertaan UIN Ar-Raniry dalam program KRISAN Fellowship menjadi bagian dari upaya kampus memperkuat kapasitas kelembagaan dalam penyelenggaraan layanan disabilitas dan pengembangan pendidikan tinggi yang inklusif.
Melalui program tersebut, UIN Ar-Raniry akan menyusun dan menerapkan rencana aksi sesuai dengan kebutuhan kampus. Pendampingan mentor hingga akhir 2026 diharapkan dapat memastikan rencana tersebut berjalan secara berkelanjutan.
Penguatan layanan disabilitas mencakup tata kelola ULD, peningkatan aksesibilitas fasilitas, perluasan dukungan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, serta pengembangan lingkungan akademik yang lebih inklusif. []


