YOGYAKARTA – Kerentanan perempuan mengidap penyakit autoimun semakin naik setiap tahunnya yang menyebabkan meningkatnya grafik pengidap autoimun pada usia wanita reproduksi. Salah satu penyebabnya adalah faktor hormonal. Hormon estrogen pada wanita memiliki pengaruh terhadap sistem kekebalan tubuh. Sehingga perubahan atau ketidakseimbangan hormon menjadi pemicu munculnya penyakit autoimun. Hal ini juga sangat berbahaya dan mengancam nyawa bagi perempuan hamil sehingga perlu diwaspadai pada perempuan yang berencana untuk merencanakan program hamil.
Pakar Reumatologi, Internis dan Herbal dari FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, Sp.PD-KR, mengatakan penyakit autoimun terjadi akibat kekeliruan sel-sel kekebalan tubuh dalam mengenali sel tubuh dan sendiri dan sel asing. Tugas sistem imun adalah mengenali dan menghancurkan benda asing yang masuk ke dalam tubuh, seperti bakteri, virus, parasit, atau zat lain yang dianggap berbahaya. Namun, ketika sel imun salah mengenali sel tubuh sendiri sebagai musuh, maka sel-sel tersebut justru diserang. Akibatnya, organ mana pun dapat menjadi sasaran, mulai dari kulit, ginjal, paru-paru, hati, hingga organ lainnya. Dari sinilah penyakit autoimun muncul.
“Jumlah penderita autoimun cukup besar. Kalau kita memperkirakan sekitar dua persen populasi orang dewasa mengalami autoimun, maka angkanya bisa mencapai sekitar empat juta orang di Indonesia,” ungkap Nyoman, Selasa (21/7/2026).
Nyoman mengatakan, penyakit autoimun pada sebagian orang belum menunjukkan gejala, tetapi pada kasus yang berat, penyakit autoimun dapat berakibat fatal hingga mengancam nyawa. Penyakit autoimun memang dipengaruhi oleh faktor genetik, tetapi bukan berarti semua penderita memiliki riwayat keluarga. Selain faktor genetik, terdapat pula faktor lingkungan, seperti polusi udara, pola makan yang kurang sehat, serta stres.
“Banyak pasien autoimun berusaha memahami penyakitnya dengan mencari berbagai informasi, termasuk melalui internet. Sayangnya, informasi yang tidak dipahami dengan baik justru sering membuat mereka semakin cemas dan stres. Padahal, stres dapat memperburuk kondisi autoimun,” terangnya.
Salah satu faktor dominan yang menjadi penyebab autoimun yakni stress. Ia mengungkapkan tidak hanya pekerja tetapi mahasiswa pun memiliki potensi stress akibat tekanan akademik.
“Saya memiliki banyak pasien mahasiswa, baik dari UGM maupun perguruan tinggi lain, yang mengalami autoimun. Awalnya mereka sehat, tetapi setelah menghadapi tekanan akademik dan berbagai beban hidup, penyakitnya muncul,” ungkapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikologis merupakan faktor dominan penyebab autoimun.
Nyoman menyampaikan, penyakit autoimun dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, autoimun organ spesifik, yaitu penyakit yang menyerang satu organ tertentu. Misalnya, autoimun pada kelenjar tiroid yang dikenal sebagai Hashimoto. Penyakit ini hanya menyerang tiroid, tetapi gejalanya bisa cukup berat. Jika fungsi tiroid menurun, penderita dapat mengalami kenaikan berat badan, tubuh terasa lemas, dan aktivitas sehari-hari menjadi terganggu. Contoh lainnya yakni autoimun yang menyerang pankreas sehingga menyebabkan diabetes melitus tipe 1, yang biasanya muncul sejak usia muda. Ada pula autoimun yang menyerang ginjal maupun organ-organ tertentu lainnya.
Kelompok kedua adalah autoimun sistemik, yaitu penyakit yang menyerang banyak organ sekaligus. Contoh yang paling sering adalah lupus, yang dapat menyerang berbagai organ, mulai dari kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga organ lainnya. Karena melibatkan banyak organ, gejalanya pun sangat beragam. Selain lupus, terdapat pula penyakit autoimun lain seperti rheumatoid arthritis, scleroderma, dan beberapa jenis penyakit rematik autoimun lainnya.
Pada laki-laki juga dapat terjadi autoimun, misalnya ankylosing spondylitis, tetapi secara umum memang sekitar 80 persen penderita autoimun adalah perempuan, sedangkan sekitar 20 persen laki-laki. Kasus ini pun juga lebih sering ditemukan pada perempuan usia muda karena pada usia tersebut sistem imun masih sangat aktif.
Nyoman menyebutkan terdapat beberapa hal yang bisa diperhatikan mengenai pemicu utama autoimun. Pertama adalah kelelahan. Meskipun kondisi pasien sudah membaik dan hasil pemeriksaannya bagus, mereka tetap harus menyadari bahwa dirinya memiliki penyakit autoimun. Oleh karena itu, aktivitas sehari-hari harus memiliki batas. Misalnya, menjaga jam tidur dan tidak memaksakan diri bekerja hingga kelelahan. Pemicu kedua adalah stres.
“Ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter,” katanya.
Pemicu ketiga adalah paparan sinar matahari yang berlebihan. Bukan berarti penderita sama sekali tidak boleh terkena matahari, tetapi sebaiknya paparan berlebihan dihindari. Jika harus berada di luar ruangan, gunakan pelindung seperti payung atau tabir surya.
“Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan,” pesannya.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang benar-benar kuat mengenai makanan tertentu sebab setiap orang memiliki pemicu yang berbeda-beda.
“Karena itu saya selalu menyarankan pasien untuk mengenali tubuhnya sendiri. Dalam bahasa Jawa saya sering mengatakan, dititeni. Artinya, perhatikan dan catat makanan apa yang dikonsumsi, lalu amati apakah setelah itu gejalanya kambuh atau tidak,” terangnya.
Lebih lanjut, Ia menyampaikan, tantangan dalam penanganan autoimun terdapat pada proses pengobatan dan pemahaman pasien terhadap penyakitnya.
“Ada pasien yang merasa sudah sehat setelah minum obat, lalu menganggap penyakitnya sudah sembuh sehingga berhenti berobat. Sebaliknya, ada juga pasien yang justru mengalami depresi setelah mengetahui dirinya menderita autoimun dan merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Kedua kondisi tersebut sama-sama menjadi tantangan dalam penanganan pasien,” terangnya.
Selain itu, tantangan lainnya yakni penggunaan obat-obatan imunosupresan. Obat ini bekerja dengan menekan sistem kekebalan tubuh agar tidak lagi menyerang organ tubuh sendiri. Namun, di sisi lain, sistem imun juga berfungsi melindungi tubuh dari bakteri, virus, dan berbagai kuman penyebab penyakit.
“Menurut saya, pendekatan yang ideal bukan sekadar menekan sistem imun, melainkan mengembalikan sistem imun agar mampu mengenali mana yang merupakan bagian tubuh sendiri dan mana yang merupakan benda asing,” ungkap Nyoman.
Keresahan tersebut yang menariknya untuk mengembangkan obat herbal. Selama ini pengobatan autoimun banyak menggunakan obat-obatan kimia yang bekerja menekan sistem imun. Obat-obatan tersebut memang diperlukan, tetapi juga memiliki berbagai efek samping sehingga dapat menimbulkan masalah kesehatan lain.
“Karena itulah saya tertarik mengembangkan penelitian mengenai obat herbal. Harapannya, di masa depan dapat ditemukan terapi yang mampu mengembalikan fungsi sistem imun menjadi normal, bukan hanya menekannya,” tuturnya.
Nyoman berpesan bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani hidup dengan tenang. Menurutnya, apapun pekerjaan yang kita lakukan, usahakan untuk menikmatinya.
“Ketika seseorang terus-menerus menjalani sesuatu yang tidak disukai, energinya akan terkuras dua kali. Pertama, untuk melawan perasaan tidak nyaman terhadap pekerjaannya, dan kedua untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendiri,” tuturnya.
Lebih lanjut, bagi seseorang yang memiliki keturunan atau bakat genetik yang bisa dilakukan adalah mengurangi faktor-faktor pemicunya.
“Prinsipnya tetap sama, yaitu menghindari stres berlebihan, tidak memaksakan diri hingga kelelahan, dan membatasi paparan sinar matahari yang berlebihan. Selain itu, tentu tetap menjalankan pola hidup sehat, seperti menghindari rokok, alkohol, dan menjaga lingkungan tetap bersih,” pungkasnya.[]


