Rute MRT Lebak Bulus–Serpong Masih Dirahasiakan, Ini Alasannya

JAKARTA – Proyek MRT Jakarta dari Lebak Bulus menuju Serpong, Tangerang Selatan, terus berjalan. Studi kelayakan (feasibility study) untuk proyek rute interkoneksi ini ditargetkan rampung pada akhir 2026.

Bersamaan dengan itu, muncul banyak spekulasi terkait lintasan proyek tersebut di media sosial. Salah satunya ada yang menyebut jalur akan melewati Pondok Aren, sementara informasi lain menyebut Pondok Cabe.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memastikan pihaknya belum akan membuka rute pasti proyek tersebut kepada publik. Sebab jika informasi ini diketahui publik sebelum eksekusi proyek, berpotensi muncul spekulasi harga tanah yang nanti malah akan mengganggu pelaksanaannya.

“Biasanya kita nggak akan buka. Kenapa? Nanti calo tanahnya. Mereka nanti beredar di mana-mana. Karena kalau ini bocor ke luar, itu akan mempengaruhi biaya perolehan tanahnya,” kata Dudy

Menurut Dudy jika rencana rute terbongkar ke publik, harga tanah seharusnya Rp 1 juta per meter malah naik menjadi Rp 30 juta per meter. Kondisi ini tentu akan membuat biaya awal proyek jadi meroket.

Baca juga:  Purbaya Buka Suara soal Pencairan JHT Kena Pajak, Janji Cek Aturan ke Ditjen Pajak

“Nanti tanah yang tadinya Rp 1 juta jadi Rp 30 juta. Akhirnya yang dikorbankan masyarakat, yang diuntungkan cuma para makelar saja,” tegasnya.

Dudy berpendapat penentuan rute sepenuhnya menjadi bagian dari kajian investor yang akan membangun proyek tersebut. Sebab para investor akan lebih mempertimbangkan potensi jumlah penumpang hingga efisiensi investasi sebelum memutuskan rute terbaik.

“Mereka akan lihat dari sudut ekonomisnya mana yang menguntungkan rutenya. Mau lewat Pondok Cabe, demand-nya masih banyak atau lewat Pondok Aren, kita belum tahu. Kalau pun keluar, biasanya mereka simpan sendiri supaya biaya investasinya tidak naik,” ujarnya.

Belum lagi dari sudut pandang pemerintah, menurutnya yang terpenting bukanlah menentukan jalur atau rute tertentu. Namun bagaimana layanan transportasi massal bisa semakin luas dan terhubung dengan kawasan penyangga Jakarta.

“Tapi kalau Sinarmas lewatnya kan BSD, tujuan akhirnya BSD. Terserah mereka mau lewat mana. Kalau saya yang penting jangkauannya semakin jauh dan konektivitasnya lebih baik,” terang Dudy.
Penjelasan pihak MRT

Baca juga:  Di Usia ke-61, Sabang Pertegas Arah Pembangunan dan Penguatan Investasi

Sebagai informasi, dalam catatan detikcom, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) Tuhiyat mengatakan proyek perpanjangan MRT Jakarta hingga Tangerang Selatan masih dalam tahap studi kelayakan atau feasibility study (FS).

Feasibility study ini dilakukan oleh pihak swasta, yakni Sinarmas yang juga adalah pengembang BSD, dengan target rampung akhir tahun. Namun selesainya studi kelayakan ini bukan berarti bukan berarti pembangunan konstruksinya bisa langsung terlaksana tahun depan.

“Akhir tahun kajiannya baru selesai, akhir tahun. Belum itu (belum bisa dibangun tahun depan),” ujar Tuhiyat saat ditemui di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (21/6/2026).

Tuhiyat menjelaskan masih ada serangkaian tahapan yang harus dilalui setelah hasil kajian tersebut keluar. Di antaranya, mulai dari pembahasan kelembagaan, skema finansial, hingga penyusunan desain teknis yang mendetail.

“Hasil kajiannya nanti mereka yang akan meeting dulu dengan kita. Abis kajian masih banyak lembagaan, finansial baru pen-detailz, detail engineering design,” bebera Tuhiyat. []

Berita Populer

Berita Terkait